2026-08-06
Siapa Saya, di Luar Judul Jabatan
CV saya bisa menjawab pertanyaan 'apa jabatan saya'. Tulisan ini menjawab pertanyaan yang lebih jarang ditanya tapi lebih penting: kenapa saya masih di sini setelah 7 tahun, dan apa yang sebenarnya saya pertaruhkan tiap kali menekan tombol deploy.
- personal
- career
- introduction
Kalau discan cepat, begini datanya: 7 tahun kerja di satu perusahaan. 3 kali naik jabatan. 1 sistem payroll yang menghidupi gaji lebih dari 800 orang setiap bulan. Angka-angka itu ada di CV saya, dan CV cukup untuk menjawab pertanyaan "apa yang pernah Anda kerjakan".
Tapi ada pertanyaan lain yang jarang muncul di sesi interview, padahal menurut saya lebih menentukan: kenapa seseorang bertahan tujuh tahun di tempat yang sama, dan apa sebenarnya yang berubah di antara satu jabatan ke jabatan berikutnya selain gaji.
Nama saya Muhammad Royhan, dan ini jawabannya.
Saya Tidak Merencanakan Ini
Saya masuk dunia software engineering dengan alasan yang kurang romantis: bidang ini terlihat sudah terlalu ramai, dan saya tidak tertarik ikut antre bersaing dengan orang-orang yang sudah lebih dulu jatuh cinta padanya. Moving Bytes Digital yang justru membuka pintu itu di tahun 2019—bukan karena saya melamar dengan visi besar, tapi karena kesempatan itu ada dan saya ambil.
Yang tidak saya duga: begitu masuk, pertanyaan yang muncul bukan "apakah saya suka coding", tapi "apakah saya sanggup bertanggung jawab atas sesuatu yang orang lain gantungkan hidupnya". Itu pertanyaan yang jauh lebih menarik, dan jauh lebih sulit dijawab.
Rutenya: Junior sampai Tech Lead, Tanpa Pindah Alamat
Dari Juni 2019 sampai sekarang, jabatan saya berubah empat kali di perusahaan yang sama: Junior Software Engineer, lalu Software Engineer, lalu Senior Software Engineer, dan sejak 2023 Tech Lead.
Yang membedakan setiap jenjang itu bukan gaji atau titel di kartu nama. Sebagai junior, saya diberi kode yang sudah berjalan dan diminta melanjutkannya tanpa merusak apa pun. Sebagai senior, saya mulai dipercaya memegang proyek dari nol sampai serah terima—tanpa jaring pengaman orang lain yang lebih senior di belakang saya. Sebagai Tech Lead, pertanyaannya berubah lagi: bukan lagi "bisakah saya menyelesaikan ini", tapi "bisakah saya membuat dua orang lain menyelesaikan ini dengan benar, tanpa saya harus turun tangan setiap saat".
Tiga pergeseran itu terjadi di kantor yang sama, dengan meja yang sama. Yang berubah adalah seberapa jauh konsekuensi dari kesalahan saya bisa menjalar.
Domain yang Saya Pilih: Angka yang Tidak Boleh Meleset
Kalau melihat daftar teknologi yang saya pakai—React, Next.js, Node.js, Express, NestJS, PostgreSQL, MySQL, sesekali Flutter untuk mobile—itu daftar yang mirip dengan ribuan fullstack engineer lain. Yang membedakan bukan tools-nya, tapi jenis masalah yang saya pilih untuk diselesaikan dengan tools itu.
Saya membangun sistem payroll untuk perusahaan dengan 800+ karyawan. Saya memegang sistem kredit karyawan sebuah Bank Perkreditan Rakyat dari baris kode pertama sampai hari serah terima. Sebelum itu, saya sempat menangani proyek ERP dan marketplace sewa-menyewa barang yang sudah berjalan duluan sebelum saya bergabung.
Satu benang merah menyatukan semuanya: ini bukan sistem di mana bug tampilan jadi masalah terbesar. Angka yang salah di sini berarti gaji yang telat masuk rekening, atau cicilan yang tercatat keliru di data seseorang. Salah hitung bukan laporan bug—itu konsekuensi yang langsung dirasakan orang di dunia nyata.
Yang Membuat Saya Bertahan Bukan Cinta pada Kode
Saya jujur soal ini karena kedengarannya kurang inspiratif tapi lebih jujur: saya tidak bertahan tujuh tahun karena passion menulis kode. Saya bertahan karena semakin lama saya di bidang ini, semakin besar juga jumlah orang yang bergantung pada hasil kerja saya—dan entah kenapa, beban itu yang justru membuat saya lebih serius, bukan lebih ingin kabur.
Momen yang paling menempel di ingatan: waktu memegang sistem kredit karyawan di 2022, saya sadar bahwa angka yang keliru di layar saya bukan sekadar edge case yang perlu di-patch. Itu tagihan seseorang yang salah, dan orang itu akan tahu kesalahannya lebih dulu daripada saya.
Sebagai Tech Lead, Pekerjaan Saya Justru Makin Sedikit Soal Kode
Sejak 2023, sebagian besar hari kerja saya tidak dihabiskan menatap editor. Saya mengelola 2 proyek sekaligus bersama 2 software engineer, dari tahap perencanaan sampai rilis produksi. Saya merancang pola arsitektur backend yang kemudian dipakai ulang di proyek klien lain—yang, secara terukur, memangkas waktu setup proyek baru.
Klien juga datang ke saya duluan kalau ada kendala teknis, dan tugas saya menerjemahkan permintaan mereka jadi tugas yang jelas untuk tim. Di luar rutinitas itu, antara Maret dan Juni 2025 perusahaan memberi saya proyek lintas negara—kesempatan untuk melihat apakah cara kerja saya masih relevan kalau dibandingkan dengan standar tim dari negara lain.
Bagian favorit saya dari peran ini bukan otoritasnya, tapi jangkauan pandangnya. Waktu jadi individual contributor, saya hanya melihat satu potongan sistem. Sebagai lead, saya melihat bagaimana satu keputusan kecil di proyek A diam-diam menentukan seberapa cepat proyek B bisa jalan enam bulan kemudian.
Prinsip Kerja, Bukan Slogan di Dinding
Ada dua cara berpikir yang saya pakai setiap hari, dan saya sengaja tidak menyebutnya "filosofi hidup" karena kedengarannya terlalu besar untuk sesuatu yang lahir dari kebiasaan praktis.
Yang pertama: saya selalu mencoba melihat sistem sebagai jaringan yang saling menarik, bukan kumpulan modul yang berdiri sendiri. Perubahan kecil di aturan pajak bisa merambat ke laporan yang sama sekali tidak terlihat berhubungan—dan kalau saya cuma menatap satu modul saat debugging, saya akan melewatkan itu.
Yang kedua: saya membiasakan diri bertanya, sebelum kesal soal sesuatu, "ini benar-benar bisa saya ubah, atau saya cuma bisa merancang respons terhadapnya?" Tenggat dari klien, keputusan tim sebelumnya, atau apakah API pihak ketiga sedang down—saya jarang punya kendali atas hal-hal itu. Yang saya kendalikan adalah seberapa siap sistem saya menghadapinya.
Kenapa Saya Menuliskan Semua Ini
Situs ini bukan resume yang dipoles jadi terlihat lebih menarik. Ini tempat saya membongkar alasan di balik keputusan—kenapa saya memilih arsitektur tertentu di sistem payroll, kenapa situs ini sendiri dibangun dengan cara yang saya jelaskan di tulisan lain, dan pada akhirnya, apa yang membuat saya yakin sistem yang saya bangun layak dipercaya orang yang bahkan tidak pernah bertemu saya.
Tapi semuanya bermula dari satu titik yang sama: tujuh tahun, satu perusahaan, dan keyakinan bahwa hal paling berharga yang bisa saya wariskan ke sistem yang saya bangun bukan kecepatan atau kecanggihan—tapi kejelasan yang bertahan lama setelah saya berhenti mengawasinya.